There's no point to any of this. It's all just a random lottery of meaningless tragedy and a series of near escapes.So I take pleasure in the details & put it on a story.
I'm a boring 21 years old girl living in a small but beautiful city -- Yogyakarta. Currently starting her career in a big corporate as a Creative Marketing Associate; trying to get through life one day at a time.
Rappelle-moi de cette poésie
Bonjour,
Tadi malam baru saja menghabiskan waktu nonton konser yang diadakan di PKKH (dulu Purna Budaya UGM) oleh mahasiswa fisipol, khususnya komunikasi. Menarik sekali akhirnya bisa nonton konser lagi setelah beberapa bulan yang lalu nonton Mocca di tempat yang sama. Ada sesuatu di PKKH yang bikin suasana konser lebih intim. Tapi mungkin cuma perasaanku aja haha
Untuk kali ini, ada 4 band yang perform. Yang pertama, Boarding Room. Band yang diisi oleh teman - teman tersayang, salah satu band yang pernah aku bikin kisruh dengan suaraku. Always been my favorite, I enjoy them very much. Yang kedua, ada band Jalan Pulang. Kalau gak salah inget, nonton mereka pertama kali di acaranya FMF beberapa bulan yang lalu, tapi kali ini full-band. Menarik deh mereka. Beberapa bagian ada yang bikin inget sama The Trees & The Wild, one of my favorite band, too. It's a good discovery. Yang ketiga, ini lumayan bikin galau. Nama band nya adalah Rabu. Kebetulan kata Bian, vokalisnya adalah temannya waktu SMP dan namanya adalah Wednes (short for Wednes-day. I know. Go figure.). Anyway, kenapa galau? Karena dengerin mereka ini (2 personil) seperti masuk ke dalam pikiran sendiri. Not exactly my kind of music, tapi ditengah - tengah agak ngantuk, I actually enjoy the rhythm they play. Waktu denger mereka mulai main, langsung keinget sama band Prancis yang belum lama dating ke Jogja, namanya Limousin. Rasanya kayak diajak jalan - jalan ke pikiran sendiri, lihat - lihat memori yang ada. Menarik :)
Nah yang keempat ini yang paling ditunggu semuanya: Banda Neira. Jujur aja, belum begitu lama dengerin mereka, tapi memang susah untuk nggak jatuh cinta. I'm a sucker for poetry and simple words. Apalagi poetry yang tertulis dan kata - kata yang sederhana. Lirik di lagu mereka itu simple tapi ngena. Puisi untuk telinga, tapi sangat enteng, mudah dipahami dan sangat easy-to-relate. Musik mereka juga simple, gitar dan beberapa atribut lain. Mau sok tau nyebutnya tapi nggak usah deh ya. Biar kalian penasaran aja :-P
Ini pertama kali nonton mereka live. Mereka sangat simple, dan emang lagi ngetrend ya sepertinya band - band begini. Semua penonton duduk rapi, saat mereka nyanyi, penonton juga ikut nyanyi dengan volume yang manusiawi jadi suara kedua personil juga tetep terdengar. Intim banget, I love every minute of it. Rasanya mereka nyanyi lebih dari 5 lagu dengan tempo yang pas. Semua terasa pas, ngga terlalu cepat atau lambat.
Tapi yang menyentuh hati hadir di akhir. Saat mereka selesai, tentu, seperti yang lain, penonton minta encore. Saat itu denger Nanda (salah satu personil) bilang, "kita sebenernya udah nggak ada lagu lagi," tapi akhirnya mereka memutuskan buat nyanyiin satu piece baru yang mereka kerjain tapi belum sempat untuk dilatih. Karena memang relative baru dan belum untuk ditampilkan live. "Kita akan bawain musikalisasi puisi Chairil Anwar yang menurut kita sangat sacral," kata Rara, "puisi ini ditulis ditahun kematian Chairil Anwar." Setelah ditunggu mereka siap - siap, akhirnya Nanda mulai memetik gitarnya dan bilang, "judulnya Derai Derai Cemara," lalu mereka mulai.
Begitu dengerin dengan seksama, iya, jadi teringat pertama kali tahu puisi ini waktu SMA. Tapi kayaknya karena pengalaman jiwa nya belum banyak, jadi makna puisinya terasa berbeda, Saat dengerin mereka ini akhirnya paham kenapa sakral. Akhirnya jadi terngiang - ngiang puisinya sampe akhirnya memutuskan untuk nulis post ini.
Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
My favorite, indeed.
Tapi karena keinget puisi Chairil Anwar, jadi keinget puisi nya yang lain. Keinget puisi yang nyerempet - nyerempet soal cinta. Cinta mati, lebih tepatnya. Yang berhubungan dengan mati, ya, ironi.
Tak Sepadan
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros
Dikutuk sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak 'kan apa - apa
Aku terpanggang tinggal rangka
Ah, puisi itu. Dulu sempat menempel di kepala selama SMA. Tapi tentu pengalaman yang dirasa berbeda. Tapi senang bisa keinget lagi sama puisi tersebut. Sesuatu tentang puisi yang bikin tenang. Rasanya seperti dipahami kata - kata. Dipahami ketika yang hidup tidak bisa.
I hope you guys had a good night, as good as I did. Because nights like this don't always happen that often. And nights like this makes me feel like I want to write it down and share it to you all.